MAKALAH TAFSIR III
PROSES PENCIPTAAN MANUSIA
Dosen
Pengampu : :Prof.,Dr, Muhammad Chirzin, M,Ag.

Disusun Oleh :
GUSTAV FAIZAL S.A (12C27500)
Kelas: A
PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2014
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan sebaik-baik
ciptaan dibandingkan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia dilengkapi akal
untuk berfikir yang membedakannya dengan binatang. Mengenai proses kejadian
manusia, dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hijr (15) : 28-29) diterangkan bahwa manusia
diciptakan dari tanah dengan bentuk yang sebaik-baiknya kemudian ditiupkan ruh
kepadanya hingga menjadi hidup.
Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan
bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang
sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti
sekarang ini. Di lain pihak banyak ahli agama yang menentang adanya proses
evolusi manusia tersebut. Khususnya agama Islam yang meyakini bahwa manusia
pertama adalah Nabi Adam a.s. disusul Siti Hawa dan kemudian
keturunan-keturunannya hingga menjadi banyak seperti sekarang ini. Hal ini
didasarkan pada berita-berita dan informasi-informasi yang terdapat pada kitab
suci masing-masing agama yang mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama.
Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana proses kejadian manusia
menurut Al-Qur’an, hadist, maupun iptek.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian manusia menurut pandangan Islam?
2.Bagaimana
proses penciptaan manusia itu menurut alqur’an ?
3. bagaiman proses penciptaan manusia itu menurut sains ?
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Manusia
2.1.1
Pengertian Manusia Menurut Pandangan Islam
Manusia dalam pandangan
kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal tanah di bumi. Manusia dalam
pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan daging, darah, urat,
tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran dianggapnya
barang benda, yang dihasilkan oleh otak.[1]
Pandangan ini menimbulkan kesan seolah-olah manusia ini makhluk yang rendah dan
hina, sama dengan hewan yang hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan
kepuasan semata.
Dalam pandangan Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat
di sisi-Nya, yang diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi
akal dan hati, sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa
Al-Qur’an menurut sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya.
لقد خلقنا الإنسان
في أحسن تقويم
Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin :
95:4). Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat mulia kalau mereka
sebagai khalifah (makhluk alternatif) tetap hidup dengan ajaran Allah (QS.
Al-An’am : 165). Karena ilmunya itulah manusia dilebihkan (bisa dibedakan)
dengan makhluk lainnya, dan Allah menciptakan manusia untuk berkhidmat
kepada-Nya, sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat (51) : 56.
وما خلقت الجن والإنس
إلا ليعبدون
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat (51) : 56).
Dalam Agama Islam, segala sesuatunya telah diatur dengan baik dan
digambarkan dalam kitab suci Al-Quran. Tidak luput olehNya, bagaimana proses
pembentukkan manusia yang juga digambarkan sejelas-jelasnya. Dalam Al-Qur’an
jika dipadukan dengan hasil penelitian ilmiah menemukan titik temu mengenai
asal usul manusia ini.
Terwujudnya alam semesta ini berikut segala isinya diciptakan oleh
Allah dalam waktu enam masa. Keenam masa itu adalah Azoikum, Ercheozoikum,
Protovozoikum, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Cenozoikum. Dari penelitian para
ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap
menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing
(tidak berevolusi).[2]
Manusia dikaruniakan oleh Allah akal untuk berfikir. Dengan akal,
manusia mampu membedakan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah).
Dengan akal pula, manusia mampu merenungkan dan mengamalkan sesuatu yang benar
tersebut. Dengan karunia akal, manusia diharapkan dapat memilah dan memilih
nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.
Disamping memiliki akal, manusia selalu terlahir dengan 3 naluri
yang pasti ada dalam dirinya, yaitu :
1.
Naluri
untuk mensucikan sesuatu : naluri untuk beragama dan menyebah sesuatu yang
lebih dari pada dirinya.
2.
Naluri
untuk mempertahankan eksistensi diri : manunia punya kecenderungan marah,
sedih, senang dll.
3. Naluri untuk melestarikan dirinya : naluri kasih sayang.
2.2
Proses Penciptaan Manusia
2.2.1
Penciptaan Manusia Menurut Bibel
Menurut penjelasan di dalam Bibel, Bibel tidak memuat
pernyataan-pernyataan mengenai berbagai fenomena alam yang pada setiap masa
sejarah manusia dapat menjadi subyek pengamatan dan dapat meningkatkan
banyaknya penjelasan atas kemahakuasaan Tuhan, disertai dengan rincian-rincian
spesifik tertentu. Sebagaimana akan kita lihat nanti, teks-teks semacam itu
hanya ada di dalam Al-Qur’an.
Penjelasan-penjelasan Bibel mengenai asal-usul penciptaan manusia,
dijelaskan di dalam Kitab Genesis dalam ayat-ayat yang membahas penciptaan
secara keseluruhan. Salah satu ayat yang ada di dalam Kitab Genesis berbunyi :
“Lalu Tuhan berkata, ‘Biarlah kita membuat manusia dalam citra kita, sesuai
dengan kita; dan jadilah mereka menguasai ikan di laut, burung di udara,
ternak, dan segala suatu di atas bumi serta setiap makhluk yang melata di atas
bumi’.[3]
2.2.2
Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an dan sains
Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia mempunyai dua
tahapan yang berbeda, yaitu: Pertama, disebut dengan tahapan primordial.
Manusia pertama, Adam a.s. diciptakan dari al-tin (tanah), al-turob (tanah
debu), min shal (tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk)
yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh
dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut (Q.S, Al An’aam (6):2, Al Hijr
(15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman (55):4). Kedua,
disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia selanjutnya adalah melalui
proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di dalam proses ini,
manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang
tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu dijadikan darah
beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian
dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang
belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits yang
diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah swt. ke
dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah
dan 40 hari mudghah.
PERINGKAT
SATU
NUTFAH : iaitu peringkat pertama bermula
selepas persenyawaan atau minggu pertama. Itu bermula setelah berlakunya percampuran air
mani
Maksud
firman Allah dala surah al-Insan : 2
إنا خلقنا الإنسان
من نطفة أمشاج نبتليه فجعلناه سميعا بصيرا
" Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia daripada setetes
air mani yang bercampur yang Kami (hendak mengujinya dengan perintah dan
larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat "
Menurut Ibn Jurair al-Tabari, asal
perkataan nutfah ialah nutf artinya air yang sedikit yang terdapat di dalam
sesuatu bekas, samudra, telaga, tabung dan sebagainya. Sementara perkataan amsyaj berasal
daripada perkataan masyj yang bererti percampuran.
Berdasarkan
kepada makna perkataan tersebut maksud ayat di atas ialah sesungguhnya Kami
(Allah) menciptakan manusia daripada air mani lelaki dan air mani perempuan.
Daripada nutfah inilah Allah
menciptakan anggota-anggota yang berlainan , tingkah laku
yang berbeda serta menjadikan lelaki dan perempuan.

A.
Sperma
B. Sperma menembus ovum
PERINGKAT
KEDUA
ALAQAH
: Peringkat pembentukan alaqah ialah pada ujung minggu pertama / hari ketujuh .
Pada hari yang ketujuh telur yang sudah
disenyawakan itu akan tertanam di dinding rahim (qarar makin). Selepas itu Kami
mengubah nutfah menjadi alaqah.
Firman
Allah yang bermaksud
ثم خلقنا النطفة
علقة
" Kemudian Kami mengubah nutfah menjadi
alaqah" al-Mukminun : 14
Kebanyakan ahli tafsir menafsirkan
alaqah dengan makna segumpal darah. Ini mungkin dibuat berdasarkan
pandangan mata kasar. Alaqah sebenarnya suatu benda yang amat seni yang
diliputi oleh darah. Selain itu alaqah mempunyai beberapa maksud :
1.
sesuatu
yang bergantung atau melekat
2.
pacat
atau lintah
3.
suatu
buku atau ketulan darah
Peringkat
alaqah adalah peringkat pada minggu pertama hingga minggu ketiga didalam rahim.
PERINGKAT KETIGA
MUDGHAH
: Pembentukan mudghah dikatakan berlaku pada minggu keempat. Perkataan mudghah
disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran iaitu surah al-Hajj ayat 5 dan
surah al-Mukminun ayat 14
Firman
Allah yang bermaksud
فخلقنا العلقة مضغة
"lalu
Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging" al-Mukminun
: 14
Diperingkat ini sudah berlaku pembentukan
otak, saraf tunjang, telinga dan anggota-anggota yang lain. Selain itu sistem
pernafasan bayi sudah terbentuk.Vilus[4] yang
tertanam di dalam otot-otot ibu kini mempunyai saluran darahnya sendiri.
Jantung bayi pula mula berdengup. Untuk perkembangan seterusnya, darah mula
mengalir dengan lebih banyak lagi kesitu bagi membekalkan oksigen dan pemakanan
yang secukupnya. Menjelang tujuh minggu sistem pernafasan bayi mula berfungsi
sendiri.
PERINGKAT KEEMPAT
IZAM
DAN LAHM : Pada peringkat ini yaitu minggu
kelima, keenam dan ketujuh ialah peringkat pembentukan tulang yang mendahului
pembentukan oto-otot. Apabila tulang belulang telah dibentuk, otot-otot akan
membungkus rangka tersebut.
Firman
Allah yang bermaksud :
فخلقنا المضغة عظاما
فكسونا العظام لحما
"Lalu
Kami mengubahkan pula mudghah itu menjadi izam dan
kemudiannya Kami membalutkan Izam dengan daging" al-Mukminun
: 14
Kemudian pada minggu ketujuh terbentuk pula satu sistem yang
kompleks. Pada tahap ini perut dan usus , seluruh saraf, otak dan tulang
belakang mula terbentuk. Serentak dengan itu sistem pernafasan dan saluran
pernafasan dari mulut ke hidung dan juga ke paru-paru
mula kelihatan. Begitu juga dengan organ pembiakan, kalenjar, hati, buah
penggang, pundi air kencing dan lain-lain terbentuk dengan lebih sempurna lagi.
Kaki dan tangan juga mula tumbuh. Begitu juga mata, telinga dan mulut semakin
sempurna. Pada minggu kelapan semuanya telah sempurna dan lengkap.

Janin pada usia 12 minggu
PERINGKAT
KELIMA
NASY'AH
KHALQAN AKHAR : Pada peringkat ini yaitu menjelang
minggu kelapan , beberapa perubahan lagi berlaku. Perubahan pada tahap ini
bukan lagi embrio tetapi sudah masuk ke peringkat janin. Pada
bulan ketiga, semua tulang janin telah terbentuk dengan sempurnanya
Kuku-kukunya pun mula tumbuh. Pada bulan keempat, pembentukan uri menjadi cukup
lengkap menyebabkan baki pranatel bayi dalam kandungan hanya untuk
menyempurnakan semua anggota yang sudah wujud. Walaupun perubahan tetap berlaku
tetapi perubahannya hanya pada ukuran
bayi saja.
Janin mendapat makanan melalui uri
PERINGKAT
KE ENAM
NAFKHUR-RUH
: Iaitu peringkat peniupan roh. Para ulama Islam menyatakan bahwa roh
ditiupkan ke dalam jasad yang sedang berkembang? Mereka hanya sepakat
mengatakan peniupan roh ini berlaku selepas empat puluh hari dan selepas
terbentuknya organ-organ tubuh termasuklah organ seks. Nilai kehidupan mereka
telah pun bermula sejak di alam rahim lagi. Ketika di alam rahim perkembangan
mereka bukanlah proses perkembangan fisikal
semata-mata tetapi telahpun mempunyai hubungan dengan Allah s.w.t melalui
ikatan kesaksian sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam al-Quran surah
al-A'raf : 172. Dengan ini entiti roh dan jasad saling bantu membantu untuk
meningkatkan martabat dan kejadian insan disisi Allah s.w.t
Alqur’an menurut sains
Manusia merupakan makhluk yang diberikan
berbagai kelebihan oleh Allah SWT di dunia ini, selain fisik yang sempurna,
namun juga akal dan pikiran. Proses penciptaan manusia di duniia ini terdapat
beberapa tahapan. Berikut pengkajian penciptaan manusia berdasarkan ilmu
biologi dan islam.

Tahapan Proses Penciptaan Manusia dalam rahim menurut Sains
dan alqur’an
Proses
awal penciptaan manusia berlangsung dengan adanya pembuahan. Jutaan sperma terpancar
dari laki-laki pada satu waktu dan
menuju sel telur wanita yang jumlahnya hanya satu dari setiap siklusnya. Sperma
melakukan perjalanan yang sulit di tubuh wanita sampai menuju sel telur wanita.
Sel telur wanita hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja. Setelah masuk
dan terjadi fertilisasi pun belum tentu zigot (dalam biologi namanya konseptus)
menempel di tempat yang tepat pada rahim.
Jika dicermati pada uraian di atas, maka bahan
manusia bukan air mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya
(spermazoa). Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Qiyamah ayat 36-37.
Artinya: “Apakah
manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)” (QS.
al-Qiyamah: 36-37).
Ketika sperma pria bergabung dengan sel telur
wanita, maka inti sari bayi yang akan lahir itu terbentuk. sel tunggal yang
dikenal sebagai “zigot”[5]
dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga
akhirnya menjadi “segumpal daging”.
Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap
pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang
kokoh menancap di bumi dengan serabutnya. Melalui hubungan ini, zigot mampu
mendapatkan zat-zat penting dari sang ibu bagi pertumbuhannya. Pada tahap ini,
satu keajaiban penting dari al-Qur’an terungkap. Ketika merujuk pada zigot yang
sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah SWT menggunakan kata “’alaq” dalam
al-Qur’an:
Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah” (QS. al-‘Alaq: 1-3).
Arti kata “’alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang
menempel pada suatu tempat”. Tentunya, penggunaan kata yang demikian tepat
untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, membuktikan bahwa al-Qur’an
merupakan wahyu dari Allah SWT; Tuhan Semesta Alam.
al-Qur’an surat al-Zumar ayat 6 menyebutkan bahwa, proses
reproduksi manusia melalui tiga fase atau tahapan.
Artinya: “…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian
demi kejadian dalam tiga kegelapan...” (QS. Al-Zumar: 6).
Ayat di atas menunjukan bahwa, seorang manusia
diciptakan dalam tubuh ibunya melalui tiga tahapan yang berbeda. Benar sekali,
ilmu biologi modern telah mengungkapkan bahwa, pembentukan embrio pada terjadi
pada tiga daerah yang berbeda dalam rahim ibu.
Fakta tersebut menyebutkan bahwa, kehidupan
dalam rahim memiliki tiga tahapan, yaitu: pertama, pre-embrionik selama dua
setengah minggu pertama. Kedua, embrionik hingga akhir minggu kedelapan.
Ketiga, fetus atau janin dari minggu kedelapan sampai kelahiran. Adapu
fase-fase tersebut dapat diuraikan sebagai beikut:
a. Fase
Pre-embrionik
Pada fase pertama, zigot tumbuh membesar melalui
pembuahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri
pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin besar, sel-sel
penyusunnya pun mengatur diri sendiri guna membentuk tiga lapisan.
b. Fase
Embrionik
Fase kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu.
Pada masa ini, bayi disebut sebagai ”embrio”[6].
Pada fase ini organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan-lapisan
sel tersebut.
c. Fase Fetus
Atau Janin
Dimulai dari fase ini dan seterusnya, bayi disebut
sebagai fetus atau janin. Fase ini dimulai sejak kehamilan minggu kedelapan
hingga masa kelahiran. Ciri khusus fase ini adalah bahwa fetus atau janin sudah
menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada
awalnya hanya memilik panjang 3 cm, kesemua organnya sudah jelas. Fase ini
berlangsung kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu
kelahiran.
Informasi mengenai perkembangan bayi dalam rahim ibu,
baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan peralatan modern. Namun,
sebagaimana fakta ilmiah lainnya, informasi ini disampaaikan dalam ayat-ayat
al-Qur’an dengan cara yang luar biasa. Fakta bahwa, informasi yang begitu
terperinci dan akurat diberikan dalam al-Qur’an pada saat bidang kedokteran
masih primitif. Hai ini merupakan bahwa, al-Qur’an bukanlah ucapan manusia,
melainkan firman Allah SWT.
BAB
3
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
· Pengertian manusia menurut pandangan
Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi-Nya, yang
diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi akal dan hati,
sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran menurut
sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia
dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 95:4).
Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak
ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci. Beberapa di
antaranya sebagai berikut:
1.
Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa).
2.
Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3.
Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4.
Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.
DAFTAR
PUSTAKA
Dr.
Bucaille, Maurice. (1984). Asal-Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan
Sains. Bandung: Penerbit Mizan.
Syueb,
Sudono. Buku Pintar Agama Islam. (2011). Percetakan Bushido Indonesia: Delta
Media
Prof.
DR. Daradjat, Zakiah. dkk. (1986). Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta.
[2] Muhammad
Fathurrohman, M.Pd.I, Proses Kejadian Manusia dan Nilai-nilai Pendidikan di
Dalamnya,
(http://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/19/proses-kejadian-manusia-dan-nilai-nilai-pendidikan-di-dalamnya/,
diposting : 19 September 2012)
[3] Dr.
Maurice Bucaille, Asal-Usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains,
(Bandung: Penerbit Mizan, 1984, edisi ke-3), hal: 169.
[4] (jaringan yang berbetuk seperti jonjot akar
yang tertanam ke dalam endometrium/ lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya
menempelnya ovum yang telah dibuahi.)
[5] sel yang terbentuk sebagai hasil
bersatunya dua sel kelamin (sel ovum dan sel sperma) yang telah masak
No comments:
Post a Comment