BAB
I
PENDAHULUAN
a.
Latar belakang
Secara
umum belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku yang relatif
menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau latihan. Yang dimaksud
pengalaman adalah segala kejadian (peristiwa) yang secara sengaja maupun tidak
sengaja dialami oleh setiap orang, sedangkan latihan merupakan kejadian yang
dengan sengaja dilakukan oleh setiap orang secaraberulang-ulang.
Dalam
pengertian lainnya, belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman (leaning is defined as the modification or strengthening of behavior
though experiencing), menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses,
suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu yakni mengalami. Hasil belajar bukan
suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Dengan demikian belajar bukan hanya berupa
kegiatan mempelajari suatu mata pelajaran di rumah atau di sekolah secara
formal. Disamping itu belajar merupakan masalahnya setiap orang. Hampir semua
kecakapan, ketrampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran, dan sikap manusia
terbentuk, dimodifikasi dan berkembang karena belajar. Kegiatan yang disebut
belajar dapat terjadi dimana-mana, baik di lingkungan keluarga, masyarakat
maupun di lembaga pendidikan formal. Di lembaga pendidikan formal usaha-usaha
dilakukan untuk menyajikan pengalaman belajar bagi anak didik agar mereka
belajar hal-hal yang relevan baik bagi kebudayaan maupun bagi diri
masing-masing.
Dalam
proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar
dan media pembelajaran. Dalam makalah ini saya akan membahas bagaimana
perbedaan antara media pembelajaran, media pendidikan serta media massa dalam
pembelajaran Bahasa Inggris.
Dalam
metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar
dan media pendidikan sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalah
untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya tujuan pengajaran.
Kedudukan media pendidikan sebagi alat bantú mengajar ada dalam komponen
metodologi, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
Di
sini juga akan dibahas penggunaan media pembelajaran. Seperti yang kita ketahui
media pembelajaran itu banyak macamnya. Untuk proses belajar mengajar yang baik
kita harus menggunakan media pembelajaran yang tepat dan tertuju pada objek
yang akan kita sampaikan.
b.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian media pembelajaran ?
2.
Apa perbedaan Media Pembelajaran dengan Media Pendidikan dan Media Massa ?
3.
Bagaimana dan apa saja manfaat dan metode pengajaran dalam media pembelajaran
bahasa inggris ?
c.
Tujuan
1.
Mengetahui Pengertian Media Pembelajaran.
2.
Mengetahui perbedaaan Media Pembelajaran dengan Media Pendidikan dan Media
Massa.
3.
Mengetahui Manfaat dan metode pengajaran dalam media pembelajaran bahasa
inggris.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kata
media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti
“tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah
perantara () atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Menurut
Gerlach dan Ely (1971), media apabila dipahami secara garis besar adalah
manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan
lingkungan sekolah marupakan media.
Hainich
dan kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang
mengantar informasi antara sumber dan penerima.
Kesimpulannya,
media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim ke penerima. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
B.
Perbedaaan Media Pembelajaran Dengan Media Pendidikan Dan Media Massa
Media
Pembelajaran
Media
pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang
bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran menurut Gagne
dan Briggs (1975) media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan
untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder,
kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar,
grafik, televisi dan computer.
Media
Pendidikan
Adapun
pengertian media pendidikan itu antara lain:
a.
Media pendidikan memiliki pengertian fisik (hardware) atau perangkat keras,
yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panea
indera.
b.
Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik (software) atau perangkat lunak,
yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi
yang ingin disampaikan kepada siswa.
c.
Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
d.
Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di
dalam maupun di luar kelas.
e.
Media pendidikan dapat digunakan secara missal (radio, TV), kelompok besar dan
kecil (film, slide, video, OHP), atau perorangan (modul, computer, radio,
tape,/kaset, video recorder)
Jadi
kesimpulannya, media pendidikan adalah perantara yang membawa informasi atau
pesan-pesan sebagai sumber belajar, baik berupa software dan hardware. Contoh
media pendidikan adalah gambar, foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik,
kartun, poster, radio dan lain-lain.
Media
Massa
Media
massa berasal dari dua kata, yaitu media dan massa. Media adalah alat atau
perantara, sedangkan massa adalah orang banyak dan masyarakat umum. Jadi dapat
disimpulkan bahwa media massa adalah suatu perantara untuk menyampaikan pesan
kepada masyarakat atau orang banyak. Pesannya itu mengandung
informasi-informasi yang diperlukan masyarakat, baik mengenai politik, sosial,
ekonomi, maupun budaya. Sehingga dengan adanya media massa masyarakat mendapat
pengetahuan tentang negaranya. Contoh dari media massa adalah surat kabar dan
Koran.
C.
Manfaat Media Pembelajaran Dan Metode Pengajaran Dalam Media Pembelajaran
Bahasa Inggris
Salah
satu alasan penggunaan media pembelajaran adalah terkait dengan manfaat media
pembelajaran bagi keberhasilan belajar mengajar di kelas. Salah satu aspek yang
menentukan keberhasilan dalam belajar mengajar adalah pemilihan media
pembelajaran yang tepat.
Menurut
Hamalik (1986), media pembelajaran yang tepat dapat membangkitkan motivasi,
keinginan minat, dan rangsangan kepada siswa. Sehingga dapat membantu
pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran
data, memadatkan informasi.
Adapun
mengapa media pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan
mengajar di kelas, menurut Levie dan Lentz (1982), itu karena media
pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi yaitu:
1. Fungsi
atensi, yaitu dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang
ditampilkan atau menyertai teks materi dan pelajaran.
2. Fungsi
afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.
3. Fungsi
kognitif, yaitu memperlancar tujuan untuk memahami dan mengingat
informasi/pesan yang terkandung dalam gambar.
4. Fungsi
compensations, yaitu dapat mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat
menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara
verbal.
Alasan-alasan
mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yaitu:
a.
Alasan yang pertama yaitu berkenaan dengan menfaat media pengajaran itu
sendiri, antara lain:
1.
Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi
belajar.
2.
Bahan pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan
pembelajaran dengan baik.
3.
Metode pengajaran akan bervariasi
4.
Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
b.
Alasan kedua yaitu sesuai dengan taraf berpikir siswa. Dimulai dari taraf
berfikir konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berfikir
yang kompleks. Sebab dengan adanya media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat
dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan. Itulah beberapa
alasan mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi keberhasilan dalam proses
belajar mengajar.
Kriteria
pemilihan media pelajaran
Faktor
yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pendidikan adalah sebagai berikut
-
Relevansi pengadaan media pendidikan edukatif
-
Kelayakan pengadaan media pendidikan edukatif
-
Kemudahan pengadaan media pendidikan edukatif
Harus
disadari bahwa setiap media memiliki kelemahan dan kelebiha. Pengetahuan
tentang keunggulan dan keterbatasan media menjadi penting bagi gurudapat
memperkecil kelemahan atas media yang dipilih oleh guru sekaligus dapat
langsung memilih berdasarkan kriteria yang dikehendaki.
Kriteria
pemilihan media pembelajaran yaitu:
1. Sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan
instruksional yang telah ditetapkan baik dari segi kognitif, afektif, dan
psikomotor.
2. Keterpaduan
(validitas).Media harus tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya
fakta, konsep, prinsip atau generalisasi.
3. Media
harus praktis, luwes dan bertahan. Jika tidak tersedia waktu, dana, atau sumber
daya lainnya untuk memproduksi, tidak perlu dipaksakan. Media yang mahal dan
memakan waktu yang lama bukanlah jaminan. Sebagai media yang terbaik. Sehingga
guru dapat memilih media yang ada, mudah diperoleh dan mudah dibuat sendiri
oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun dan kapanpun
dengan peralatan yang ada di lingkungan sekitarnya, dan mudah dibawa dan
dipindahkan ke mana-mana.
4. Media
harus dapat digunakan guru dengan baik dan terampil. Apapun medianya, guru
harus mampu menggunakan dalam proses pembelajaran. Komputer, proyektor
transparansi (OHP), proyektor slide, dan film, dan peralatan canggih lainnya
tidak akan berarti apa-apa jika guru belum dapat menggunakannya dalam proses
belajar mengajar di kelas.
5. Mutu
teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi
persyaratan teknis tertentu. Misalnya visual pada slide harus jelas dan
informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh
terganggu oleh elemen lain yang berupa latar belakang.
6. Media
yang digunakan harus sesuai dengan taraf berfikir siswa. Media yang digunakan
harus dapat menunjang dan membantu pemahaman siswa terhadap pelajaran tersebut
sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Menurut
Prof. Drs Hartono Kasmadi M.Sc bahwa dalam memilih media pendidikan perlu
dipertimbangkan adanya 4 hal yaitu: produksi, peserta didik, isi, dan guru.
1)
Pertimbangan produksi
-
Availabilty
-
Cost
-
Physical condition
-
Accessibility to student
-
Emotional impact.
2)
Pertimbangan peserta
-
Students characeristics
-
Students relevance
-
Students involvement
3)
Pertimbangan isi
-
Curriculair – relevance
-
Content-soundness
-
Presentation
4)
Pertimbangan guru
-
Teacher-Utilization
-
Teacher peace of mind
The
Silent Way Ahli-ahli psikologi kognitif dan bahasa transformasi-generatif
beranggapan bahwa belajar bahasa tidak perlu melalui pengulangan. Mereka
percaya bahwa pebelajar dapat menciptakan ungkapan-ungkapan yang belum pernah
didengar. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa pembelajaran bahasa tidak hanya
menirukan tapi aturan-aturan berbahasa dapat membantu mereka menggunakan bahasa
yang dipelajari. Dalam proses pembelajarannya, guru hanya menunjuk ke suatu
chart yang berisi dengan vocal konsonan. Guru menunjuk beberapa kali dengan
diam. Setelah beberapa saat guru hanya memberi contoh cara pengucapannya.
Kemudian menunjuk siswa untuk melafalkan sampai benar. Dalam proses
pembelajaran guru banyak berdiam diri, dia hanya mengarahkan/menunjuk pada
materi pembelajaran.
Metode-
metode dalam mengajar bahasa inggris
1.
Metode Langsung (Direct Method)
Direct
artinya langsung. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan
materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing
tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik
sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh
anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga,
mendemontstrasikan, menggambarkan dan lain-lain. Metode ini berpijak dari
pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu
pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal
rumus-rumus tertentu, berpikir, dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa,
siswa/anak didik dilatih praktek langsunng mengucapkan kata-kata atau
kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula
masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata
dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya.
Demikian
halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan basah kepada anak-anaknya
langsung dengan mengajarinya, menuntunnya mengucapkan kata per kata, kalimat
per kalimat dan anaknya menurutinya meskipun masih terihat lucu. Misalnya
ibunya mengajar “Ayah” maka anak tersebut menyebut “Aah” dan seterusnya. Namun
lama kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia mengerti pula
maksudnya. Pada prinsipnya metode langsung (direct method) ini sangat utama
dalam mengajar bahasa asing, karena melalui metode ini siswa dapat langsung
melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya).
Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk menuirukannya, tapi adalah
menarik bagi anak didik.
Ciri-ciri
metode ini adalah :
Materi
pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat.Gramatika
diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak dituntut menghafal
rumus-rumus gramatika, tapi yang utam adalah siswa mampu mengucapkan bahasa
secara baik.
Dalam
proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa
alat peraga langsung, tidak langsung (bnda tiruan) maupun peragaan melalui
simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu. Setelah masuk kelas, siswa atau
anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam
bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.
2.
Metode Berlitz (Berlitz Method)
Metode
Berlitz (Berlitz Metode) adakah metode langsung (Direct Method) yang selalu
digunakan di sekolah-sekolah Berlitz sebagai metode utama. Semua
sekolah-sekolah Berlitz menggunakan metode langsung (direct Method) ini dalam
pengajaran bahasa-bahasa asing di sekolahnya dan bnyak lagi sekolah-sekolah
lain di Amerika dan Eropa yang secara rutin menerapkan metode ini. Mereka telah
yakin bahwa metode inilah yang paling cocok dan paling berhasil untuk
pengajaran bahasa asing agar lebih serasi dan mencapai kemampuan aktif
berbahasa asing. Karena itu metode langsung disebut juga dengan metode Berlitz,
sebab sekolah-sekolah berlitz lebih banyak mempopulerkan pemakaian metode ini
secara kontinu dan mereka ternyata memang berhasil sangat baik.
3.
Metode Alami (Natural Method)
Metode
alami (Natural Method) disebut demikian karena dalam proses belajar, siswa
dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri. Dalam
pelaksanaannya metode ini tidak jauh berbeda dengan metode langsung (direct)
dimana guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa
diterjemahkan sedikitpun, kecuali dalam hal-hal tertentu di mana kamus dan
bahasa anak didik dapat digunakan.
Ciri
Metode Natural ini antara lain :
Urutan
pelajaran mula-mula diberikan melalui menyimak/mendengarkan (listening) baru
kemudian percakapan (speaking), membaca (reading) menulis atau (writing)
terahir baru gramatika. Pelajaran disajikan mula-mula memperkenalkan kata-kata
yang sederhana yang telah diketahui oleh anak didik, kemudian memperkenalkan
benda-benda mulai dari benda-benda yang ada di dalam kelas, dirumah dan luar
kelas, bahkan mengenal luar negeri atau negara-negara asing terutama Timur
Tengah. Alat peraga dan kamus yang dapat digunakan sewaktu-waktu sangat
diperlukan, misalnya untuk menjelaskan dan mengartikan kata-kata sulit dalam
bahasa asing, dan memperbanyak perbendaharaan kata-kata atau memperkaya
Vocabulary sebagai syarat utama menguasai bahasa asing. Oleh karena kemampuan
dan kelancaran membaca dan bercakap-cakap sangat diutamakan dalam metode ini
maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang diperhatikan
4.
Metode Percakapan (Conversation Method)
Yaitu
mengajarkan bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Arab atau bahasa-bahasa
lainnya yang cara langsung mengajak murid-murid bercakap-cakap/berbicara di
dalam bahasa asing yang sedang diajarkan ini. Tentunya dimulai dengan kata-kata
atau kalimat-kalimat atau ungkapan-ungkapan yang biasa berlaku pada
kegiatan-kegiatan sehari-hari, seperti : Good Morning, How are you? What are
you doing? Can you speak English? Dan sebagainya; atau kalimat-kalimat,
percakapan di dalam kelas di sekitar sekolah, dirumah di kantor dan sebagainya;
semakin lama semakin meluas dan beragam. Yang namanya berbahasa itu ialah
berbicara (sebagai fungsi pokok bahasa); peran kedua barulah membaca/memahami
tulisan atau buku. Jadi fungsi utama belajar bahasa asing itu ialah kemampuan
berbahasa aktif, berkomunikasi lisan atau bercakap-cakap. Itulah tujuan utama
atau target pokok mempelajari bahasa asing, disusul dengan kemampuan membaca
dan memahami atau penguasaan pasif. Oleh karena itu, metode utama dan pertama
di dalam kegiatan belajar mengajar bahasa asing itu semestinya adalah Metode
Percakapan (Conversation Method). Metode ini disejalankan dengan Direct Method
dan Natural Method, yang pelaksanaanya dengan menerapkan fungsi dan
prinsip-prinsip ketentuan dari tiap-tiap metode ini. Di negara-negara maju
seperti AS dan Eropa, orang menerapkan ketiga methode ini sebagai praktek utama
ditambah lagi dengan alat peraga/audio visual aids yang mencukupi dan serasi
sehingga dalam waktu satu semester telah mampu mengunjungi negara dari bahasa
bangsa yang dipelajari, belajar dan praktek selama 1 tahun telah langsung mampu
menulis disertai di dalam bahasa asing tersebut. Jadi disamping metodenya yang
serasi, medianya dan buku-buku yang lengkap, gurunya punya kepabelitas tinggi,
muridnya pun perlu bersungguh-sungguh belajar serta cerdas. Tanpa keempat
syarat tersebut terpenuhi maka orang bertahun-tahun bahkan belasan tahun
belajar bahasa asing.
5.
Metode Phonetic (Mendengar dan Mengucapkan)
Metode
ini mengutamakan ear training dan speak training yaitu cara menyajikan
pelajaran bahasa asing melalui latihan-latihan mendengarkan kemudian diikuti
dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam bahasa asing
yang sedang dipelajari. Metode Phonetic ini dapat dikatakan gabungan dari dua
metode Natural dan Reading diatas. Dimana mula-mula menurut metode ini
pelajaran dimulai dengan latihan-latihan mendengar kemudian diikuti dengan
latihan-latihan mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat dalam bahasa asing.
Kemudian disusul latihan-latihan membaca (reading and conversation).
Langkah-langkah
pelaksanaan metode ini yang dapat dilakukan :
Guru
membacakan bacaan-bacaan bahasa asing di depan kelas, atau membuka/menghidupkan
acara bacaan berupa radio kaset/video, siswa mendengarkan dan memperhatikan
baik-baik acara bacaan ini dengan cermat, serius (tidak ada yang main-main saat
pembacaan itu), siswa harus memperhatikan betul langgam dan intonasi, serta
gerak-gerik bentuk mimik tertentu dalam bacaan. Seri-seri dalam bacaan itu
hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi bahan bacaan yang
sempurna/berkelanjutan. Guru dapat menghentikan seri-seri tertentu jika seri
pelajaran tersebut sudah dianggap selesai dan dikuasai oleh anak didik,
kemudian dapat dilanjutkan pada session/seri berikutnya. Setelah pelajaran
membaca selesai, maka latihan percakapan dapat dilakukan. Misalnya percakapan-percakapan
yang sifatnya mula-mula sederhana, setelah itu menuju pada percakapan yang
kompleks/lebih sulit. Untuk memperjelas ucapan dan percakapan, maka metode ini
dianjurkan untuk menggunakan alat peraga/media pengajaran. Pada setiap akhir
materi pelajaran, guru hendaknya memberikan latihan-latihan praktis membaca dan
larihan bercakap-cakap pada masing-masing anak didik, dan jangan lupa guru
dapat memberikn berbagai catatan-catatan khusus, kesimpulan-kesimpulan dan juga
nasihat-nasihat berupa dorongan (memberi motivasi bagi anak didik) supaya
belajar sungguh-sungguh, rajin dan rutin tiap hari latihan (PR).
6.
Metode Practice – Theory
Metode
ini sesuai dengan namanya, lebih menekankan pada kemampuan praktis dari teori.
Perbandingan dapat berupa 7 unit materi praktis dan 3 unit materi yang bersifat
teoritis. Belajar bahasa asing lebih dulu dan mengutamakan praktek, lalu
diiringi dengan teori (tata bahasa). Jadi disini yang dipentingkan adalah
bagaimana siswa/anak didik dapat mampu berbahasa asing itu secara praktis bukan
teoritis. Oleh sebab itu pengajaran harus diarahkan pada kemampuan komunikatif
atau percakapan, sedangkan gramatika dapat diajarkan sambil lalu saja. Pada
tingkat-tingkat awal materi pelajaran praktis dapat dipilih dan diterapkan pada
hal-hal yang sederhana, apakah itu lewat percakapan sehari-hari yang ada
hubungannya dengan dunia sekolah anak didik atau lingkungan rumah tangga dan
masyarakat lebih luas atau dapat pula menyebutkan rincian nama-nama benda dan
kata kera sebagai dasar pembentukan bahasa percakapan. Sedangkan pada tingkat
lanjutan atas materi pelajaran dikembangkan lebih luas dan kompleks melalui
percakapan teoritis dan penalaran ilmiah.
7.
Metode Membaca (Reading Method)
Metode
membaca (Reading Method) yaitu menyajikan materi pelajaran dengan cara lebih
dulu mengutamakan membaca, yakni guru mula-mula membacakan topik-topik bacaan,
kemudian diikuti oleh siswa anak didik. Tapi kadang-kadang guru dapat menunjuk
langsung anak didik untuk membacakan pelajaran tertentu lebih dulu, dan tentu
siswa lain memperhatikan dan mengikutinya. Teknik metode membaca (Reading
Method) ini dapat dilakukan dengan cara guru langsung membacakan materi
pelajaran dan siswa disuruh memperhatikan/ mendengarkan bacaan-bacaan gurunya
dengan baik, setelah itu guru menunjuk salah satu di antara siswa untuk
membacakannya, dengan jalan berganti-ganti (bergiliran). Setelah masing-masing
siswa mendapat giliran membaca, maka guru mengulangi bacaan itu sekali lagi
dengan diikuti oleh semua siswa hal ini terutama pada tingkat-tingkat pertama;
lalu kemudian guru mencatatkan kata-kata sulit atau baru yang belum diketahui
siswa di papan tulis untuk dicatat di buku catatan untuk memperkaya
perbendaharaan kata-kata dan begitulah selanjutnya, hingga selesai topik-topik
yang telah ditetapkan/ditentukan.
8.
Metode Bicara Lisan (Oral Method)
Metode
ini adalah hampir sama dengan metode phonetic dan reform method, tetapi pada
orak method adalah menitikberatkan pada latihan-latihan lisan atau
penuturan-penutuan dengan mulut. Melatih untuk bisa lancar berbicara
(fluently), keserasian dan spontanitas. Melatih lisan/mulut agar pengucapan
bahasa asing itu bisa tepat bunyi, tidak kedengaran janggal. Latihan-latihan
Sistem bunyi melalui bibir, melatih tepatnya keluarnya huruf-huruf
kerongkongan, huruf-huruf di ujung atau di pangkal lidah dan sebagainya. Latihan-latihan
menyusun kata-kata membuat kalimat sendiri dan sebagainya, semua dilakukan
dengan mengaktifkan bicara lisan, oral, speaking. Target yang hendak dicapai
melalui metode ini ialah keammpuan dan kelancaran berbahasa lisan atau
berbicara lisan atau berkomunikasi langsung sebagai fungsi utama bahasa.
Prinsip
metode ini ialah : Teach the language, don’t teach only about the language.
9.
Metode Praktek Pola-pola Kalimat (Pattern-Practice Method)
Penerapan
terpenting metode ini ialah dengan melatih murid-murid secara praktek langsung
mengucapkan pola-pola kalimat yang sudah tersusun baik betul, atau mengerjakan
sebagaimana yang dimaksud oleh pola kalimat tersebut. Jadi pola-pola kalimat
yang mengandung arti, telah lebih dulu disediakan atau disusun secara serasi
dari yang mudah, secara berangsung-angsur sampai sulit; dan bahan
perbendaharaan kata-kata yang sederhana sampai yang rumit. Murid-murid memang
harus aktif mengucapkan, melakukan sampai menjadi kebiasaan, sehingga
menghayati pola-pola kalimat tersebut sampai membudaya. Semestinya guru itu
adalah seorang Bilingual (yang mengusai dua bahasa atau lebih sampai dihayati),
yakni bahasa asing yang diajarkan dan bahasa Indonesia, dengan kemampuan yang
sebenar-benarnya. Pertama-tama guru membanding-bandingkan kedua bahasa,
misalnya bahasa Arab dengan bahasa Indonesia, tentang kata-kata yang sama,
cara-cara pengucapan sistem tata bahasa, arti, bunyi dan seterusnya dan memberi
penjelasan-penjelasan. Dari bahasa dwi-bahasa (bilingual) diuraikan dan dipilih
pola-pola kalimat dengan bunyi-bunyi tertentu untuk mater drill atau
bahan-bahan latihan yang intensif. Susunlah pola-pola kalimat yang baik, dan
ditambah terus perbendaharaan kata-kata, sehingga menggarkan sesuatu situasi
atau cerita. Latihlah secara berulang-ulang dan sampai setiap siswa mendapat
giliran. Para siswa dilatih mengucapkan pola-pola kalimat sampai benar-benar
memahami dan menghayati arti/maksudnya serta hafal-lancar tanpa berpikir-pikir
menyusun kalimat sendiri. Setelah itu murid-murid perlu dilatih pula Listening
untuk mencapai kepekaan pendengaran (Listening, dll). Seterusnya
latihan-latihan speaking (speaking drill) untuk kelancaran berbicara, reading
drill untuk mencapai bacaan-bacaan yang betul, dan Writing Drill yakni
latihan-latihan menulis secara benar, menghindarkan salah-salah di dalam
menulis ejaan atau huruf. Latihan-latihan listening, speaking, reading and
writing ini amat diperlukan mengiringi pada hampir semua macam metode mengajar
bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Arab. Metode ini seperti yang
dipraktekkan pada buku-buku pelajaran bahasa Inggris antara lain English 900,
English 901 dan sebagainya dan dianggap sebagai yang paling sesuai dengan alamiah
pengajaran bahasa asing.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Media
merupakan suatu perantara (alat) untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan
media yang tepat dapat menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran. Media
dua dimensi dan tiga dimensi masing-masing berbeda dan mempunyai kelebihan dan
kelemahan tersendiri. Media pembelajaran yang diuraikan diatas mampu
diaplikasikan dalam pengajaran bahasa Inggris. Hal ini akan lebih mempermudah
bagi guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Seperti yang kita
ketahui media pembelajaran itu banyak macamnya. Untuk proses belajar mengajar
yang baik kita harus menggunakan media pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu
guru harus dapat memilih media yang sesuai dengan bahan pembelajaran sehingga
tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik dan lancar.